Selasa, 15 September 2015

Dua puluh untuk kamu

Bismillahirohmanirohiim...
Ketika kamu berpikir apakah kamu mampu berjuang.
Disitulah aku berpikir apakah aku layak diperjuangkan.
Ketika aku berpikir akan tertuang dua puluh kalimat.
Jari jemari ini terhenti begitu saja.
Kehilangan akal untuk terus berkata.
Bahkan disaat aku tidak menatapmu.
Aku masih membisu.
Aku masih kecewa.
Tapi aku masih disini.
Berdiri menunggu ada yg kembali.
Menunggu luka ini sembuh sendiri.
Menunggu untuk menebus janji.
Aku masih ingat janjiku.
Sampai bertemu oktober 2017 nanti.
Semoga masih teringat janji janji yg tak sengaja terucap itu.
Semoga masih terkenang masa masa indah itu.
Semoga sudah diikhlaskan masa masa kelam itu.
Selamat ulang tahun, kamu.
Semoga bahagia.
- aku. Masih yang dulu

Kamis, 26 Maret 2015

ibu, aku ingin pulang

ibu, aku lelah...
aku sudah penat dengan semuanya. aku ingin pulang.
ibu, hatiku sangat lelah...
aku sudah tidak sanggup menahan semua ini.
ibu, otakku amat lelah...
aku sudah sangat memaksanya untuk bekerja diluar batas.
ibu, sepertinya aku menyerah...
semua seperti terjadi begitu saja. tidak ada tujuan. bahkan aku tidak tau akan seperti apa aku nanti. aku hanya mengalir mengikuti derasnya aliran air.
semua pilihanku. semua keputusanku. semua perjuanganku selama ini. seperti ingin disudahi saja.
ibu, ini bukan prosanya para penyair. ini bukan puisinya para pujangga. ini cuma rintihan anakmu. yang sedang menderita di tanah tumpah darahnya. di tempat dimana orang biasa merantau. di sumber dari segala sumber kepenatan.
aku ingin pulang. bukan homesick atau apalah mereka menyebutnya. semua kesibukan ini perlahan membunuhku, bu.. aku tidak ingin mati. aku harap ada cara lain untuk membahagiakanmu selain bertahan di tempat ini.
ibu, tidak usah khawatir. aku tidak sebodoh itu. aku akan selalu meminta pada Tuhan agar aku tidak mati sebelum membahagiakanmu.
ibu, jangan sedih. aku hanya ingin pulang.
ibu, maafkan aku.